Selamat Datang di
PT. SUMUNDO MINERAL

Anggota Gratis
PT. SUMUNDO MINERAL
Indonesia
Info Perusahaan
Kontak Perusahaan
Nama:Ibu Widyarti / Yudhistira [Pemasaran]
E-mail:Kirim Pesan
Situs Web:
Nomor Ponsel:Nomor ponsel Ibu Widyarti / Yudhistira di Yogyakarta
Nomor Telpon:Nomor telpon Ibu Widyarti / Yudhistira di Yogyakarta
Alamat:Jl. Monjali No. 163 Yogyakarta
Yogyakarta, Yogyakarta
Indonesia
Rata-rata Tinjauan PemakaiTidak ada ulasan untuk perusahaan ini - Menulis tinjauan
Tanggal Bergabung:01 Jul. 2011
Terakhir Diperbarui:11 Apr. 2012
Sifat Dasar Usaha:Pabrikan, Dagang, Jasa dari kategori Mineral & Logam

Ingin menghubungi perusahaan ini?
Kirim Pesan  
Permintaan Anda akan disimpan di "Surat Bisnis".

Masukan ke Perusahaan Rekanan
Kenalkan ke teman Anda

Penjelasan Ringkas

PT. Sumundo adalah suatu usaha jasa yang bergerak dalam sektor pertambangan mineral dan bidang-bidang yang berkaitan dengannya.

Bidang-bidang usaha yang saat ini dilakukan antara lain adalah :

Riset dan Penerbitan buku-buku ilmiah yang berisi teknik-teknik pemrosesan batuan logam seperti ; batuan emas, perak, platina, tembaga, galena sebagai bahan baku timbal ( timah hitam) , spallerite sebagai batuan penghasil logam zinc, dan berbagai jenis batuan logam lainnya. Buku yang diterbitkan berasal dari hasil praktek nyata dan penelitian menggunakan faktor-faktor keilmuan yang empiris, sehingga sangat mudah dipahami dan akurat dalam penerapan di berbagai bidang usaha pengolahan batuan mineral.

Pelatihan-pelatihan dan kursus-kursus teknik pengolahan mineral logam, seperti ; kursus singkat pengolahan batuan emas, perak, tembaga, galena, dan sebagainya.

Jasa konsultan pengolahan dan pemrosesan berbagai mineral logam.

Penjualan berbagai bahan kimia yang berhubungan dengan tambang dan kegunaan umum seperti ; caustic soda ( flake maupun cair) , karbon aktif, kapur, berbagai jenis larutan asam anorganik; pelarut-pelarut logam seperti sianida, thiourea, thiosulphate; bahan-bahan kimia untuk proses flotasi; dan bahan-bahan kimia jenis lainnya.

Penjualan berbagai peralatan untuk pertambangan dan pengolahan hasil tambang, seperti ; jaw crusher, hammer mill, ball mill, mesin tromol sederhana, meja getar ( shaking table) , reaktor ( tong) knock down kapasitas sedang, instrument-instrumen elektronik sebagai pengukur dalam proses pengolahan emas seperti pH meter, dan sebagainya.

Penjualan produk-produk hasil tambang, seperti ; berbagai jenis logam mulia dan logam-logam dasar, garam-garam logam seperti CuSO4 ( copper sulphate) , konsentrat tembaga, emas, platina, dan sebagainya.

Produk / Jasa Utama
Menjual:
  • e-Book Pengolahan Emas Menggunakan Merkuri, Sianida, Thiosulfat, Air Raja
    Ebook “ Isi Buku

    E-book "Pengolahan Emas Menggunakan Merkuri, Sianida, Thiosulfat, Air Raja" dibuat untuk mengatasi berbagai masalah dan kelemahan yang timbul dalam proses pengolahan mineral emas. Buku ini merangkum berbagai hasil penelitian yang diterapkan sebagai solusi dalam meningkatkan perolehan dan efisiensi pengolahan dari berbagai jenis batuan emas di Indonesia.

    Isi Pokok :

    Pembahasan dasar-dasar metalurgi yang mudah dipahami pembaca dari berbagai kalangan (umum), dengan titik berat pada proses-proses yang melibatkan logam secara umum, serta emas dan perak secara khusus.

    Teknik aplikasi pengujian batuan emas secara mudah menggunakan peralatan yang serba murah namun berakurasi tinggi.

    Panduan lengkap proses ekstraksi air raksa, pelarutan/ pelindian/ leaching dengan tingkat perolehan yang tertinggi dalam skala produksi, beserta cara-cara pembuatan peralatan produksi.

    Cara penggunaan merkuri/ air raksa, sianida, thiosulfat, air raja, karbon aktif, zinc dust, timbal, dan alat elektrowinning yang tepat dalam proses ekstraksi.

    Penerapan teknik pemurnian emas dan perak secara kuantitatif maupun secara elektrolisis.

    Metode penanganan limbah cair yang aman dan murah.

    Tips pembuatan bahan-bahan kimia pendukung, seperti ; timbal II nitrat, perak nitrat, besi III, dan bahan kimia lainnya.

    Keanekaragaman jenis mineral batuan emas dari masing-masing daerah memerlukan teknik pengolahan yang juga berbeda antar berbagai jenis batuan tersebut. Ebook ini disusun melalui berbagai praktek lapangan dari berbagai wilayah dan jenis batuan, sehingga diharapkan para pembaca dapat menerapkan isinya secara tepat berdasarkan jenis batuan setempat.

    Isi buku dibagi dalam 17 bab yang sesuai dengan urut-urutan proses dalam pengolahan batuan emas. Setiap bab mengulas secara mendalam bagian-bagian dari prosesnya, disertai gambar-gambar yang lengkap dari berbagai proses tersebut.

    Bab I merupakan pengantar yang mengulas secara umum tentang batuan mineral emas, berbagai proses pengolahan dan macam-macam bahan kimia pelarut emas.

    Bab II berjudul “ Pengenalan Kimia Dasar ” , merupakan bagian pengantar dari proses pengolahan emas yang sebagian besar berhubungan dengan reaksi kimia. Bagian ini disajikan dengan bahasa yang sesederhana mungkin sehingga dapat dipahami dengan mudah oleh segala kalangan pembaca.

    Pada bab III ulasan semakin menjurus pada pemahaman material emas dan perak. Bagian ini sebenarnya lanjutan dari pembahasan pada Bab II, hanya saja ulasan dititikberatkan pada unsur-unsur logam emas dan perak. Bab ini diberi judul “ Sifat-Sifat Kimia dan Fisika Emas dan Perak” , mengulas berbagai hal yang berhubungan dengan sifat-sifat logam tersebut, seperti ; titik leleh, berat jenis, kemampuan larut dalam berbagai pelarut, dan berbagai sifat-sifat lainnya.

    Bab IV mendeskripsikan berbagai jenis batuan emas dan ragam teknik pengolahannya. Batuan emas memiliki berbagai jenis yang didasarkan sifat mineral senyawa-senyawa logam yang menyertainya ( seperti tembaga, zinc, timbal, besi, dan sebagainya) . Batuan oksida, karbonat, sulfida, dan sebagainya, diulas secara gamblang pada bagian ini, disertai penjelasan cara-cara pengolahannya.

    Pada bagian V pembahasan dititikberatkan pada proses-proses pengolahan awal secara mekanis, yang bertujuan membuka penampang permukaan logam emas agar mampu kontak langsung dengan berbagai ekstraktor ; air raksa/ merkuri, pelarut sianida, thiosulfat, maupun air raja. Proses mekanis adalah proses penghancuran dan penghalusan batuan emas hingga berukuran sangat halus ( di atas mesh 150) dengan berbagai mesin yang sesuai dengan tingkat ukuran partikelnya. Proses mekanis adalah proses yang sangat penting, sehingga keberhasilan pengolahan emas ( gold extraction) sangat bergantung kepada proses ini. Partikel lumpur yang dihasilkan dari penggilingan batuan emas sebaiknya memiliki ukuran yang sangat halus agar proses liberalisasi ( pembebasan partikel logam emas) menjadi optimum serta tingkat kecepatan larut makin tinggi (jika menggunakan ekstraksi pelarutan). Sebaliknya pada pengolahan menggunakan merkuri, pertimbangan ukuran bijih emas minimum justru menjadi pertimbangan utama. Ukuran bijih yang terlalu halus justru menyulitkan dalam pengolahan menggunakan merkuri, disebabkan proses ekstraksi lebih bersifat fisik.

    Proses-proses pengujian mineral emas disajikan dengan lengkap pada bab VI. Pada bagian ini, berbagai teknik pengujian mineral dipaparkan dengan lengkap, baik dengan cara - cara yang modern hingga pengujian yang menggunakan peralatan yang sederhana. Hasil dari proses pengujian berupa wujud nyata logam emas yang diekstraksi melalui proses cepat, sehingga pembaca dapat menentukan jumlah logam emas/ perak yang terkandung di dalam batuan dalam waktu yang sangat cepat. Pengujian akurat bertujuan mengetahui jumlah pasti kandungan logam emas dan perak per metrik-ton batuan, jenis-jenis dan kuantitas masing-masing logam ikutan, dan perlakuan khusus apa saja yang harus dilakukan terhadap berbagai jenis batuan tersebut. Disamping pengujian yang akurat, pengujian indikasi juga diajarkan pada bagian ini, sehingga proses pengujian batuan dapat dilakukan secara mobile dan on-site. Pengujian indikasi diperlukan agar kita dapat mengetahui apakah suatu batuan mengandung logam emas ataupun tidak, tingkat emas terkandung tinggi atau rendah, dan sebagainya. Pengujian kandungan logam-logam pengotor juga merupakan hal yang sangat penting dilakukan, agar dapat diketahui jenis-jenis logam pengotor, kuantitasnya dalam batuan, teknis penaganan dan penanggulannya pada tahapan oksidasi. Proses pengujian mineral emas yang disajikan pada bagian ini juga disajikan dalam bentuk petunjuk praktek di lapangan dengan penggunaan bahan-bahan kimia yang terukur secara pasti. Teknik dan proses pengujian yang diajarkan dalam ebook ini ditemukan oleh tim Sumundo berdasarkan betapa pentingnya pengujian kandungan emas sebelum proses produksi dilakukan, untuk menimbulkan tingkat kepastian hasil sebelum proses produksi berjalan.

    Peralatan-peralatan tromol/ glundung untuk proses yang menggunakan air raksa, reaktor ( tong) dan alat-alat pendukung lainnya ( khususnya berhubungan dengan proses leaching/ pelarutan) dideskripsikan dengan jelas pada bab VII, sehingga pembaca dapat dengan mudah membuat alat yang sama untuk melakukan proses sendiri. Penggunaan alat proses yang kurang baik menimbulkan permasalahan tersendiri dalam proses produksi, yang berimplikasi pada rendahnya tingkat perolehan emas yang dihasilkan.

    Bab VIII menitikberatkan pada pembahasan berbagai proses oksidasi (liberalisasi) lumpur. Proses mekanis hanya mampu membuka 60% dari permukaan logam emas, disebabkan keterbatasannya dalam penggerusan partikel emas mikro. Proses oksidasi sangat diperlukan agar lapisan permukaan emas dapat terbebaskan dari berbagai material pengotor. Banyaknya material pengotor yang menempel di permukaan emas akan menyulitkan dalam proses leaching dan menurunkan tingkat perolehan logam emas pada tahap ekstraksi sianida. Oksidasi tidak hanya bertujuan membuka selubung emas, akan tetapi juga berfungsi mengurangi jumlah logam pengotor pada batuan yang memiliki kandungan logam pengotor tinggi ( batuan berkandungan tembaga tinggi, batuan emas yang mengandung logam golongan platina, pyrite, dan beberapa jenis garam logam lain yang turut bereaksi dengan sianida pada proses leaching. Berbagai teknik oksidasi dari berbagai jenis batuan diajarkan pada bagian ini, termasuk juga diantaranya pembuatan berbagai jenis oksidator ( seperti cara pembuatan garam timbal II nitrat dan perak nitrat) . Penjelasan berbagai proses oksidasi juga diikuti oleh petunjuk cara-cara mempraktekkannya, dengan takaran-takaran penggunaan bahan kimia yang terukur.

    Proses pengolahan menggunakan merkuri disajikan secara luas pada bab IX. Pada bagian ini titikberat penyajian adalah berbagai upaya terukur yang dapat dilakukan agar tingkat perolehan logam emas mampu mencapai persentase tertinggi, bahkan mampu mencapai tingkat 80%. Pemaparan yang jelas terhadap karakteristik bijih emas dalam batuan, berbagai penghalang sehingga hasil proses amalgamasi rendah dijelaskan dengan cukup rinci. Berbagai pilihan solusi juga dijelaskan dengan gamblang, empiris, dan mudah dipahami.

    Pembahasan proses pelarutan ( proses leaching / gold dissolving) menggunakan sianida dilakukan pada bab X. Mekanisme terjadinya pelarutan logam emas dan perak membentuk ion kompleks dibahas secara teknis, hal-hal apa saja yang menyebabkan kestabilan ion kompleks, hal-hal yang mempengaruhi instabilitas senyawa kompleks, pengaruh mineral logam-logam ikutan terhadap konsumsi sianida. Tahapan-tahapan yang dilakukan pada proses leaching dibahas secara baik dalam bab ini, diantaranya ; penanganan dan pengendalian pH, pengendalian tingkat kelarutan oksigen, jumlah berat maupun volume lumpur per metric ton air, jumlah efektif penggunaan sianida yang ekonomis (yang diberikan secara bertahap sesuai kondisi reaksi yang terjadi), jumlah karbon yang diberikan ( melalui pengujian tingkat serapan karbon terhadap larutan emas / gold solution) , pengujian material padat terhadap masih adanya kemungkinan sebagian dari logam emas yang belum terlarut, pengendalian resiko instabilitas ikatan kompleks logam emas dan perak, dan beberapa pembahasan materi lainnya.

    Proses pelarutan menggunakan thiosulfat dipaparkan secara mendalam pada bab XI. Pada kondisi normal thiosulfat memiliki berbagai kelemahan dibanding sianida, terutama pada tingkat kecepatan pelarutan yang relatif jauh lebih lambat, dan penggunaan zat pelarut yang jauh lebih banyak, sehingga hingga saat ini penggunaan thiosulfat sebagai pelarut tidak populer sama sekali. Meskipun thiosulfat memiliki berbagai keunggulan lain seperti sifatnya yang tak beracun, harga yang sangat murah, dan tak ada peraturan pemerintah yang melarang penggunaan zat kimia ini. Sumundo telah melakukan penelitian dan berbagai terobosan untuk mengatasi berbagai kelemahan thiosulfat, dan hasilnya dituangkan pada bab ini. Kecepatan pelarutan dapat ditingkatkan hingga maksimum (bahkan melebihi kecepatan penggunaan sianida), dengan penggunaan thiosulfat yang minimum, tingkat ekstraksi logam emas hingga 95%, dan biaya produksi yang jauh lebih murah dibanding penggunaan sianida.

    Proses pelarutan menggunakan air raja (aqua regia) dibahas secara mendetail pada bab XII. Air raja memiliki selektifitas yang rendah, karena melarutkan hampir semua jenis logam ; dan ini merupakan kelemahan air raja dibanding pelarut-pelarut jenis lainnya. Perak tak terlarut dalam air raja, justru mengendap membentuk senyawa tak larut perak klorida ; padahal pada umumnya emas selalu bercampur dengan perak. Untuk mengatasi berbagai kelemahan ini dilakukan berbagai terobosan dan rekayasa kimia, sehingga air raja menjadi salah satu pelarut emas yang layak digunakan dalam proses produksi.

    Proses ekstraksi emas dari larutannya dibahas pada bab XIII. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengekstraksi logam emas dari larutannya. Pada proses ekstraksi menggunakan sianida, ekstraksi emas dari larutan dapat menggunakan karbon aktif, metoda pertukaran kation menggunakan logam zinc, dan ekstraksi menggunakan proses elektrokimia yang secara umum lebih dikenal sebagai proses electrowinning. Penggunaan karbon aktif diajarkan dengan 2 cara, yaitu ; metoda CIP (Carbon In Pulp - Karbon masuk ke dalam reaktor/ tong), metoda CIC (Carbon In Column - karbon yang dialirkan secara berlawanan terhadap aliran lumpur). Metoda pengendapan menggunakan zinc (Merill-Crowe) juga dibahas dengan baik, antara lain ; penggunaan debu zinc (zinc dust), penggunaan serat/ lembaran zinc (zinc coil), berbagai kendala dan keuntungannya.
    Ekstraksi emas dari larutannya pada proses leaching menggunakan thiosulfat memiliki cara yqang berbeda ; penggunaan karbon aktif maupun zinc tak dapat dilakukan pada metoda ini. Ekstraksi menggunakan bahan kimia presipitator menjadi pilihan utama, disamping menggunakan bahan logam pengendap maupun proses elektrowinning.
    Ekstraksi emas dari larutan kompleksnya jika menggunakan pelarut air raja dibahas secara lengkap, mulai dari ekstraksi menggunakan pengendap logam (berbagai jenis logam), ekstraksi selektif menggunakan larutan besi III, ekstraksi menggunakan reduktor sodium metabisulfit, hingga proses ekstraksi secara elektrokimia.
    Pada bagian ini, berbagai cara proses tersebut dibahas tuntas dan lugas, sehingga pembaca dapat menerapkannya dengan mudah, meskipun sebelumnya tanpa pengalaman sama sekali. Hal terbaru dari buku ini adalah pembahasan penggunaan elektrowinning dalam proses ekstraksi ; cara pembuatan alat, penetapan tegangan tetap pada nilai tertentu untuk memperoleh selektifitas logam yang tereduksi di katoda (dalam hal ini emas dan perak), berbagai varian anoda-katoda yang tahan terhadap oksidasi, teknik recovery sianida pada saat electrowinning terjadi, dan beberapa penjelasan lainnya. Sebagaimana diketahui, proses yang menggunakan system electrowinning memiliki berbagai keunggulan dibanding cara-cara ekstraksi jenis lainnya.

    Tahapan akhir pengolahan menggunakan karbon, zinc, electrowinning, dan sebagainya dikupas pada bab XIV. Hasil dari ekstraksi menggunakan karbon, zinc, berbagai jenis logam dan bahan kimia (pada proses menggunakan thiosulfat), dan electrowinning adalah konsentrat logam emas, perak, dan sebagian berupa logam-logam pengotor seperti tembaga, zinc, dan berbagai jenis logam lainnya. Ada 2 cara perlakuan terhadap karbon yang kenyang ; 1. pengurasan cairan emas/ perak dari dalam ruang-ruang karbon sehingga karbon dapat digunakan kembali, 2. pembakaran karbon untuk menguapkan karbon menjadi udara dan mereduksi garam emas menjadi logamnya. Penanganan dari konsentrat zinc juga dijelaskan secara terinci, termasuk cara-cara mengeliminasi sisa-sisa logam zinc maupun senyawa tak larut unsur zinc dari konsentrat emas (agar proses peleburan menjadi mudah dan tak menimbulkan polusi udara berupa asap oksida zinc). Pada bab ini dibahas dengan cukup baik berbagai teknik yang dapat dilakukan untuk menghasilkan logam emas dan perak dari konsentrat-konsentrat tersebut.

    Bab XV membahas berbagai jenis proses yang dapat dilakukan untuk memisahkan logam emas dan perak, serta memurnikan masing-masing logam. Pemisahan dan pemurnian dapat dilakukan secara konvensional maupun menggunakan proses elektrokimia, yang secara umum sering disebut sebagai proses elektrolisa. Proses-proses tersebut disajikan dengan baik dan lengkap pada bagian ini, diikuti dengan petunjuk cara-cara melakukannya, sehingga pembaca dapat langsung melakukan praktek tanpa mengalami kesulitan apapun.

    Pada bab XVI diajarkan cara-cara penanganan limbah cair hasil proses sianida, thiosulfat, air raja, agar dampak negatifnya terhadap pencemaran lingkungan dapat ditekan serendah mungkin. Pada dasarnya racun sianida disebabkan masih adanya unsur sianida bebas di dalam larutan limbah. Untuk mereduksi hal ini, maka dibutuhkan perlakuan secara kimiawi terhadap sisa-sisa sianida yang ada, agar terjadi pengendapan, perubahan senyawa, dan beberapa teknik penetralan lainnya. Limbah cair thiosulfat tak begitu mengkhawatirkan disebabkan tingkat racunnya 0%, akan tetapi tetap merupakan gangguan karena dapat mencemari perairan, untuk itu cairan limbah ini pun perlu dinetralisir dengan baik. Limbah cair dari proses menggunakan air raja bersifat sangat asam dan sangat korosif (bahkan uapnya saja pun dapat merusak dengan cepat bahan-bahan yang terbuat dari logam, sehingga perlu penanganan khusus agar aman dibuang. Pada bagian ini diajarkan juga cara-cara pembuatan bahan kimia penetralisir limbah, seperti pembuatan garam besi III, tawas, dan berbagai tips lainnya.

    Bab XVII mengupas tentang pengolahan emas dari limbah buangan ( tailing) hasil proses sianidasi yang dilakukan dengan proses yang biasa/ tradisional. Berdasarkan temuan di lapangan ( dari berbagai sentra pengolahan emas di seluruh daerah) , ditemukan bahwa limbah-limbah dari buangan proses sianida yang dilakukan oleh kalangan umum sebelum ini ternyata masih memiliki tingkat yang sangat ekonomis untuk diolah kembali. Jumlah limbah yang tersedia untuk saat ini mencapai belasan juta metric ton, suatu kuantitas yang sangat besar. Hasil penelitian yang dilakukan, rata-rata kandungan logam emas dari limbah buangan proses sianidasi antara 4, 5 – 7 gram per metric ton, sehingga sangat layak untuk diolah kembali ( tentunya jika menggunakan kaidah-kaidah proses yang benar) .

    Ebook disajikan dalam bentuk teori, praktek, dan gambar-gambar dari berbagai proses yang dilakukan.Penyajian yang padat dan berisi membuat ebook ini sangat layak dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan proses pengolahan sianidasi.

    - Ukuran kertas A4.
    - Tebal 325 halaman.

    Cuplikan buku dapat dilihat di : http: / / www.sumundomineral.com
  • eBook Pengolahan Emas Menggunakan Thiosulphate
    Sebagian besar dari sebaran mineral emas di alam memiliki kandungan logam perak yang jauh lebih tinggi dibanding emas. Pada kondisi jenis mineral seperti ini, penggunaan sianida sebagai ekstraktor hampir dapat dipastikan akan mengalami kerugian disebabkan tingginya biaya produksi.

    Thiosulphate memiliki harga yang sangat murah ( hanya 6% dari harga sianida) sehingga sangat baik dipakai untuk ekstraksi mineral emas berkadar rendah. Penggunaan karbon dalam proses sianida juga tak tepat digunakan pada pengolahan batuan berkadar emas rendah dikarenakan relatif mahalnya harga karbon.

    Batuan emas berkadar rendah ( kandungan perak tinggi) hingga saat ini kurang begitu dijamah karena terkendala biaya produksi yang tinggi. Melalui proses penggunaan bahan kimia yang murah dan sangat bersahabat terhadap lingkungan, diharapkan bahan-bahan ini dapat diolah secara ekonomis.

    Home > e-Book > e-Book Pengolahan Emas Menggunakan Thiosulphate > Isi Buku

    Isi Buku

    E-book Pengolahan Emas Menggunakan Thiosulphate dibuat untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul dalam proses pengolahan mineral emas berkadar rendah. Buku ini merangkum berbagai solusi yang dapat dilakukan dalam meningkatkan perolehan dan efisiensi pengolahan dari jenis batuan emas berkadar perak tinggi di Indonesia.

    Isi Pokok :

    Pembahasan dasar-dasar metalurgi yang mudah dipahami pembaca dari berbagai kalangan ( umum) , dengan titik berat pada proses-proses yang melibatkan logam secara umum, serta emas dan perak secara khusus.

    Teknik aplikasi pengujian batuan emas secara mudah menggunakan peralatan yang serba murah namun berakurasi tinggi.

    Panduan lengkap proses pelarutan/ pelindian/ leaching dengan tingkat perolehan yang tertinggi dalam skala produksi, beserta cara-cara pembuatan peralatan produksi.

    Cara penggunaan alat elektrowinning, bahan kimia pengendap, dan logam pengendap yang tepat dalam proses ekstraksi.

    Proses pengolahan menggunakan metoda heap leach / dump leach untuk memotong cost serendah mungkin.

    Penerapan teknik pemurnian emas dan perak secara kuantitatif maupun secara elektrolisis.

    Metode penanganan limbah cair yang aman dan murah.

    Tips pembuatan bahan-bahan kimia pendukung, seperti ; timbal II nitrat, perak nitrat, besi III, dan bahan kimia lainnya.

    Keanekaragaman jenis mineral batuan emas dari masing-masing daerah memerlukan teknik pengolahan yang juga berbeda antar berbagai jenis batuan tersebut. Ebook ini disusun melalui berbagai praktek lapangan dari berbagai wilayah dan jenis batuan, sehingga diharapkan para pembaca dapat menerapkan isinya secara tepat berdasarkan jenis batuan setempat.

    Isi buku dibagi dalam 13 bab yang sesuai dengan urut-urutan proses dalam pengolahan batuan emas. Setiap bab mengulas secara mendalam bagian-bagian dari prosesnya, disertai gambar-gambar yang lengkap dari berbagai proses tersebut.

    Bab I merupakan pengantar yang mengulas secara umum tentang batuan mineral emas, berbagai proses pengolahan dan macam-macam bahan kimia pelarut emas.

    Bab II berjudul “ Pengenalan Kimia Dasar ” , merupakan bagian pengantar dari proses pengolahan emas yang sebagian besar berhubungan dengan reaksi kimia. Bagian ini disajikan dengan bahasa yang sesederhana mungkin sehingga dapat dipahami dengan mudah oleh segala kalangan pembaca.

    Pada bab III ulasan semakin menjurus pada pemahaman material emas dan perak. Bagian ini sebenarnya lanjutan dari pembahasan pada Bab II, hanya saja ulasan dititikberatkan pada unsur-unsur logam emas dan perak. Bab ini diberi judul “ Sifat-Sifat Kimia dan Fisika Emas dan Perak” , mengulas berbagai hal yang berhubungan dengan sifat-sifat logam tersebut, seperti ; titik leleh, berat jenis, kemampuan larut dalam berbagai pelarut, dan berbagai sifat-sifat lainnya.

    Bab IV mendeskripsikan berbagai jenis batuan emas dan ragam teknik pengolahannya. Batuan emas memiliki berbagai jenis yang didasarkan sifat mineral senyawa-senyawa logam yang menyertainya ( seperti tembaga, zinc, timbal, besi, dan sebagainya) . Batuan oksida, karbonat, sulfida, dan sebagainya, diulas secara gamblang pada bagian ini, disertai penjelasan cara-cara pengolahannya.

    Pada bagian V pembahasan dititikberatkan pada proses-proses pengolahan awal secara mekanis, yang bertujuan membuka penampang permukaan logam emas agar mampu kontak langsung dengan pelarut sianida. Proses mekanis adalah proses penghancuran dan penghalusan batuan emas hingga berukuran sangat halus ( di atas mesh 150) dengan berbagai mesin yang sesuai dengan tingkat ukuran partikelnya. Proses mekanis adalah proses yang sangat penting, sehingga keberhasilan pengolahan emas ( gold extraction) sangat bergantung kepada proses ini. Partikel lumpur yang dihasilkan dari penggilingan batuan emas sebaiknya memiliki ukuran yang sangat halus agar proses liberalisasi ( pembebasan partikel logam emas) menjadi optimum serta tingkat kecepatan larut makin tinggi.

    Proses-proses pengujian mineral emas disajikan dengan lengkap pada bab VI. Pada bagian ini, berbagai teknik pengujian mineral dipaparkan dengan baik meskipun menggunakan peralatan yang cukup sederhana. Hasil dari proses pengujian berupa wujud nyata logam emas yang diekstraksi melalui proses cepat, sehingga pembaca dapat menentukan jumlah logam emas/ perak yang terkandung di dalam batuan dalam waktu yang sangat cepat. Pengujian akurat bertujuan mengetahui jumlah pasti kandungan logam emas dan perak per metrik-ton batuan, jenis-jenis dan kuantitas masing-masing logam ikutan, dan perlakuan khusus apa saja yang harus dilakukan terhadap berbagai jenis batuan tersebut. Disamping pengujian yang akurat, pengujian indikasi juga diajarkan pada bagian ini, sehingga proses pengujian batuan dapat dilakukan secara mobile dan on-site. Pengujian indikasi diperlukan agar kita dapat mengetahui apakah suatu batuan mengandung logam emas ataupun tidak, tingkat emas terkandung tinggi atau rendah, dan sebagainya. Proses pengujian mineral emas yang disajikan pada bagian ini juga disajikan dalam bentuk petunjuk praktek di lapangan dengan penggunaan bahan-bahan kimia yang terukur secara pasti. Teknik dan proses pengujian yang diajarkan dalam ebook ini ditemukan oleh tim Sumundo berdasarkan betapa pentingnya pengujian kandungan emas sebelum proses produksi dilakukan, untuk menimbulkan tingkat kepastian hasil sebelum proses produksi berjalan.

    Peralatan-peralatan reaktor ( tong) dan alat-alat pendukung lainnya ( khususnya berhubungan dengan proses leaching/ pelarutan) dideskripsikan dengan jelas pada bab VII, sehingga pembaca dapat dengan mudah membuat alat yang sama untuk melakukan proses sendiri. Pada bagian ini juga ditampilkan alat-alat untuk proses pengolahan metoda heap leach, dimana peralatan yang digunakan sebagian besar berbeda dibanding proses leaching lumpur menggunakan reaktor. Penggunaan alat proses yang kurang baik menimbulkan permasalahan tersendiri dalam proses produksi, yang berimplikasi pada rendahnya tingkat perolehan emas yang dihasilkan.

    Bab VIII membahas berbagai proses oksidasi lumpur ( pada proses leaching reaktor) dan proses oksidasi pada proses leaching menggunakan sistem heap leach. Proses oksidasi sangat diperlukan agar lapisan permukaan emas dapat terbebaskan dari berbagai material pengotor. Banyaknya material pengotor yang menempel di permukaan emas akan menyulitkan dalam proses leaching dan menurunkan tingkat perolehan logam emas pada tahap ekstraksi sianida. Oksidasi tidak hanya bertujuan membuka selubung emas, akan tetapi juga berfungsi mengurangi jumlah logam pengotor pada batuan yang memiliki kandungan logam pengotor tinggi ( batuan berkandungan tembaga tinggi, batuan emas yang mengandung logam golongan platina, dan sebagainya) . Berbagai teknik oksidasi dari berbagai jenis batuan diajarkan pada bagian ini, termasuk juga diantaranya pembuatan berbagai jenis oksidator ( seperti cara pembuatan garam timbal II nitrat dan perak nitrat) . Penjelasan berbagai proses oksidasi juga diikuti oleh petunjuk cara-cara mempraktekkannya, dengan takaran-takaran penggunaan bahan kimia yang terukur.

    Proses pelarutan ( proses leaching / gold dissolving) dijelaskan secara rinci pada bab IX. Tahapan-tahapan yang dilakukan pada proses leaching dibahas secara baik dalam bab ini, diantaranya ; penanganan dan pengendalian pH, pengendalian tingkat kelarutan oksigen, jumlah berat maupun volume lumpur per metric ton air, jumlah efektif penggunaan thiosulphate yang ekonomis, pengujian material padat terhadap masih adanya kemungkinan sebagian dari logam emas yang belum terlarut, pengendalian resiko instabilitas ikatan kompleks logam emas dan perak, dan beberapa pembahasan materi lainnya.

    Proses ekstraksi emas dari larutannya diterangkan pada bab X. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengekstraksi logam emas dari larutannya, antara lain ; metoda pertukaran kation menggunakan logam, ekstraksi menggunakan proses elektrokimia yang secara umum lebih dikenal sebagai proses elektrowinning, dan perusakan ikatan kompleks larutan emas menggunakan presipitator khusus. Pada bagian ini, berbagai cara proses tersebut dibahas tuntas dan lugas, sehingga pembaca dapat menerapkannya dengan mudah, meskipun sebelumnya tanpa pengalaman sama sekali. Hal terbaru dari buku ini adalah pembahasan penggunaan elektrowinning dalam proses ekstraksi; sebagaimana diketahui, proses yang menggunakan system electrowinning memiliki berbagai keunggulan dibanding cara-cara ekstraksi jenis lainnya jika proses leaching menggunakan metoda heapleach.

    Tahapan akhir pengolahan menggunakan logam pengendap, electrowinning, dan presipitator khusus dikupas pada bab XI. Hasil dari ekstraksi menggunakan logam pengendap, electrowinning, dan presipitator khusus adalah konsentrat logam emas, perak, dan sebagian berupa logam-logam pengotor seperti tembaga dan berbagai jenis logam lainnya. Pada bab ini dibahas dengan cukup baik berbagai teknik yang dapat dilakukan untuk menghasilkan logam emas dan perak dari konsentrat-konsentrat tersebut.

    Bab XII membahas berbagai jenis proses yang dapat dilakukan untuk memisahkan logam emas dan perak, serta memurnikan masing-masing logam. Pemisahan dan pemurnian dapat dilakukan secara konvensional maupun dengan menggunakan proses elektrokimia, yang secara umum sering disebut sebagai proses elektrolisa. Proses-proses tersebut disajikan dengan baik dan lengkap pada bagian ini, diikuti dengan petunjuk cara-cara melakukannya, sehingga pembaca dapat langsung melakukan praktek tanpa mengalami kesulitan apapun.

    Pada bab XIII diajarkan cara-cara penanganan limbah cair hasil proses thiosulphate, agar dampak negatifnya terhadap pencemaran lingkungan dapat ditekan serendah mungkin. Pada bagian ini diajarkan juga cara-cara pembuatan bahan kimia penetralisir limbah dan berbagai tips lainnya. Pada dasarnya, thiosulphate adalah bahan kimia yang non-toksik ( tak mengandung racun) , akan tetapi pengaturan pH limbah cair perlu dilakukan, serta penetralan beberapa sifat korosif lainnya.

    E-book “ Pengolahan Emas Kadar Rendah Menggunakan Thiosulphate” disusun selengkap mungkin, kombinasi antara teori dan praktek ditampilkan secara visual beserta gambar-gambar praktek yang jelas, sehingga memudahkan bagi para pembaca untuk menerapkannya di lapangan.
    Cuplikan buku dapat dilihat di : http: / / www.sumundomineral.com
  • e-Book Pengolahan Limbah Elektronik
    Sebagian besar komponen dalam peralatan elektronik terbuat dari logam, yang sebagian besar diantaranya berupa logam berharga dan logam mulia. Umumnya logam-logam yang mendominasi secara berat di berbagai perangkat elektronika adalah tembaga, timah putih, aluminium, dan besi. Pada perangkat elektronika modern, penggunaan logam-logam mulia makin tak terhindarkan disebabkan makin kuatnya tuntutan akan kecepatan aliran data, peningkatan efisiensi penggunaan daya listrik, serta pengecilan ukuran fisik suatu perangkat.

    Logam-logam mulia memiliki konduktivitas yang lebih baik dibanding konduktor konvensional seperti tembaga dan aluminium, sehingga penggunaannya makin meluas seiring makin perlunya kecepatan komunikasi data berkecepatan tinggi dalam berbagai perangkat elektronika. Emas, perak, dan palladium banyak digunakan pada perangkat komputer dan alat telekomunikasi digital, dan kini pemakaiannya makin meluas ke perangkat-perangkat elektronik lainnya seperti ; peralatan audiovisual ( TV dan radio) , instrumen-instrumen pengatur pada peralatan atomobile, pendingin ruangan, peralatan-peralatan militer, dan berbagai peralatan lainnya.

    Makin pesatnya kemajuan teknologi mengakibatkan tingkat masa pakai peralatan elektronik pun makin singkat, sehingga limbah yang dihasilkan terus meningkat dari waktu ke waktu. Masa pakai peralatan komputer paling lama berdurasi 5 tahun, dengan jumlah rata-rata konsumsi nasional pertahun di atas 12 juta unit. Berdasar data ini, maka asumsi limbah elektronika dari komputer saja mencapai 12 juta unit per tahun, suatu angka yang sangat besar.

    Penelitian yang dilakukan Sumundo terhadap limbah pesawat telekomunikasi mobile ( HP) , diperoleh angka kandungan emas antara 200-300 gram/ ton, perak 6-9 kg/ ton, tembaga 30-40% per ton. Pada komputer meja ( PC) , kandungan emas dan palladium terbanyak pada bagian prosesor utama. Emas bervariasi antara 40 mg ( Pentium III) hingga 500 mg ( Pentium PRO) , sebaliknya logam palladium terbanyak terdapat pada prosesor Pentium III. Perak sebagian besar terdapat di bagian lainnya, seperti mainboard ( 6-12 gram) . Kandungan logam tembaga mencapai 25% , timah putih antara 5-10% pada setiap bagian.

    Pada pesawat komputer yang lebih kuno ( misalnya PC yang menggunakan prosesor INTEL 386 atau 486 DX) tingkat penggunaan logam mulia lebih tinggi, disebabkan teknologi pelapisan belum secanggih sekarang, serta harga logam mulia yang masih lumayan murah pada saat diluncurkannya produk tersebut. Limbah elektronika digital yang lebih usang menggunakan lebih banyak logam dan logam-logam mulia dibanding limbah yang relatif lebih baru.

    Pesawat komputer berjenis notebook ( laptop) memiliki kandungan logam emas yang tinggi dan hampir tersebar merata pada seluruh pirantinya. Penggunaan logam mulia yang lebih banyak pada pesawat notebook disebabkan tuntutan akan kerampingan ukuran namun kecepatan dan kapasitas data yang nyaris sama dengan komputer PC.

    Pada peralatan elektronik rumah tangga lainnya, kandungan logam berharga mayoritas masih didominasi oleh tembaga ( 35-40% ) , diikuti oleh timah putih ( 8-15% ) , aluminium ( 4-6% ) , serta sedikit logam mulia perak dan emas yang terdapat di bagian IC.

    Semakin langka dan mahalnya harga-harga logam ( terutama harga logam mulia yang terus naik) serta tingginya potensi limbah elektronik dalam negeri, mengakibatkan bisnis pengolahan ( daur ulang) limbah menjadi bisnis yang sangat besar dan menarik saat ini. Di berbagai negara limbah-limbah logam telah lama di daur ulang untuk memenuhi pasokan kebutuhan industri mereka, namun di Indonesia bisnis ini masih belum dilirik sepenuhnya.

    Kesulitan utama dalam pengolahan limbah elektronik terletak pada minimnya informasi tentang cara-cara pengolahan yang benar, sehingga sebagian besar darinya kemudian hanya menjadi sampah ( peralatan elektronik rumah tangga) , sebagian lagi yang memiliki nilai ekonomis kemudian diekspor dalam bentuk rangkaian terurai. Padahal nilai tambah dari limbah sangatlah tinggi disebabkan adanya rentang waktu yang panjang antara masa pakai awal ( produk baru) dan masa buang. Dalam rentang waktu ini terjadi kenaikan yang tajam pada harga-harga logam, terutama jenis logam-logam mulia.

    Makin usang suatu limbah elektronik maka makin banyaklah penggunaan logam-logam berharga terhadap pembuatan awal peralatan tersebut. Suatu contoh, penggunaan logam emas pada prosesor INTEL 486 DX lebih besar daripada jumlah emas yang terkandung pada prosesor setelahnya ( Pentium I dan seterusnya) . Ini terjadi karena saat alat dibuat harga logam mulia emas belumlah semahal saat ini, sementara harga penjualan produk hampir tak mengalami perubahan yang signifikan hingga saat ini. Penggunaan kandungan logam yang lebih rendah pada perangkat limbah elektronik yang lebih baharu dibandingkan kandungan pada produk yang usang juga disebabkan makin berkembangnya teknologi pelapisan dari waktu ke waktu.

    Berdasarkan fakta ini, maka bisnis pengolahan limbah adalah bisnis terukur yang sangat menguntungkan dari waktu ke waktu. Dari suatu eksperimen yang dilakukan Sumundo terhadap produk komputer PC keluaran akhir tahun 90-an, dihasilkan nilai rupiah yang mencapai angka Rp 1.200.000, - ( harga pada saat tulisan ini dimuat) , suatu angka yang fantastis jika dihubungkan dengan angka pembuangan limbah PC yang mencapai 12 juta unit pertahun. Kenaikan harga logam-logam mulia yang terus saja berlangsung secara tajam makin memastikan bahwa bisnis daur ulang limbah elektronik merupakan suatu pilihan yang sangat tepat.

    Buku elektronik " Pengolahan Limbah Elektronik " disusun dalam 8 BAB.

    Bab I berjudul Pendahuluan, mengulas secara umum aspek-aspek ekonomi bisnis pengolahan limbah elektronik, dan berbagai bahan limbah yang mengandung logam mulia ( termasuk diantaranya limbah master film percetakan, rontgen, fixer, dan beberapa jenis limbah lainnya) .

    Bab II menjelaskan hal-hal dasar tentang kimia dasar dan sifat-sifat kimia logam. Bab ini diberi judul " Kimia Dasar dan Sifat-Sifat Kimia Fisika Logam" . Bagian ini membahas dasar-dasar ilmu kimia, khususnya kimia analisa kualitatif dan kuantitatif. Selanjutnya dibahas berbagai reaksi spesifik dari masing-masing logam, baik secara kimia maupun secara metallurgy. Seluruh pemaparan disajikan secara gamblang dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti, sehingga dapat dimengerti oleh kalangan umum sekalipun.

    Bab III menitikberatkan pada pengujian kandungan logam-logam di dalam suatu rangkaian elektronik. Bab ini berjudul " Pengujian Kuantitatif Kandungan Logam-Logam" . Pengujian kandungan sangat perlu dilakukan agar biaya produksi dapat diprediksi dengan tepat, sehingga potensi laba sudah diketahui sebelum proses pengolahan dilakukan. Suatu contoh, dari hasil pengujian yang dilakukan Sumundo terhadap limbah rontgen, diperoleh kandungan logam perak sebanyak 0, 8% - 1% dari total berat bahan bakunya. Contoh lainnya, pengujian terhadap 1 unit CPU lengkap diperoleh kandungan logam emas sebanyak 260 mg, palladium 800 mg, perak 14 gram, tembaga 637 gram, timah 90 gram, dan aluminium 210 gram.

    Bab IV berupa proses awal pengerjaan bahan, berupa pemilahan materi, pembakaran, dan peleburan bahan. Materi-materi yang terbuat dari logam besi dan aluminium perlu dipisahkan terlebih dahulu, sebelum pembakaran dan proses peleburan dilakukan. Bab ini diberi judul " Proses Pengerjaan Awal Limbah Elektronik " . Sebagaimana diketahui, efek polusi dan gas racun yang ditimbulkan akibat pembakaran cukup luar biasa, sehingga pada bagian ini juga diajarkan cara pembuatan incinerator yang aman bagi lingkungan. Pembakaran yang serampangan juga mengakibatkan melayangnya sebagian dari debu logam emas ke bagian atas, yang terlepas dari kulitnya akibat proses panas dan oksidasi logam yang terlapisi. Bahan-bahan yang sulit terbakar ( seperti serat fiber) dilebur dengan cara berbeda setelah proses pembakaran selesai. Bagian ini juga mengajarkan teknik peleburan yang tepat terhadap logam campuran yang mengandung palladium , dan pemisahan unsur besi pada saat peleburan dilakukan. Proses yang sedikit berbeda ( dari proses limbah elektronik) dilakukan terhadap limbah master percetakan dan film rontgen ( proses pengolahan limbah ini dijelaskan pada sub-bab yang khusus) .

    Bab V menjelaskan proses pemisahan dan pemurnian masing-masing logam. Setelah peleburan diperoleh logam paduan yang terdiri dari berbagai jenis logam ( besi, seng, timah putih, aluminium, tembaga, nikel, sedikit timbal, perak, palladium, dan logam emas) . Selanjutnya masing-masing logam dipisahkan secara kimia, maupun secara elektrokimia ( electrowinning) , untuk mendapatkan masing-masing logam yang murni. Bagian ini berjudul " Proses Pemisahan dan Pemurnian Masing-Masing Logam " . Proses pemisahan yang melibatkan unsur palladium adalah proses yang sangat sulit dilakukan, namun pada buku ini proses dibuat menjadi mudah dan dapat dilakukan dengan alat-alat yang sederhana. Pada bagian prosesor suatu unit komputer, jumlah palladium mencapai 5 kali jumlah berat logam emas, sehingga palladium merupakan hasil yang paling ekonomis dari pengolahan limbah elektronik modern. Pada logam hasil leburan limbah rontgen, kemungkinan adanya logam pengotor seperti timbal dan besi selalu saja ada, sehingga proses pemurnian logam perak juga mutlak dilakukan.

    Bab VI menjelaskan cara-cara peleburan masing-masing logam yang telah dimurnikan. Peleburan masing-masing unsur memiliki cara-cara yang sebagian berbeda antara satu dan lainnya. Peleburan timah putih perlu memerhatikan tingkat suhu yang relatif rendah untuk menghindarkan terbentuknya sebagian garam tak lebur unsur logam timah. Peleburan logam tembaga dan palladium adalah hal tersulit, sehingga penjelasannya dilakukan lebih mendalam pada bab ini.

    Bab VII mengulas metoda penanganan limbah cair, padat dan gas yang dihasilkan selama proses produksi berlangsung. Beberapa jenis limbah cair perlu penanganan disebabkan sifat keasaman yang tinggi, sedangkan limbah gas yang dihasilkan berasal dari proses pembakaran, peleburan, dan proses pemisahan secara kimia. Penanganan limbah dijelaskan secara rinci beserta teknis dan peralatannya.

    Bab VIII menjelaskan cara-cara pembuatan bahan-bahan kimia, seperti tawas, besi III klorida, merkuri II klorida, dan sebagainya. Logam aluminium yang berukuran halus dan tipis sebaiknya dijadikan sebagai produk tawas karena rendahnya perolehan logam jika dilakukan peleburan. Besi III klorida, besi sulfat, amonium klorida, merkuri I klorida, merupakan produk yang perlu dan selalu digunakan dalam proses pemisahan logam. Akan tetapi sebagian dari bahan kimia tersebut sangat sulit diperoleh di pasaran, sehingga pada bagian ini diajarkan cara pembuatannya.

    - Ukuran : A4
    - Tebal buku : 169 halaman
    Cuplikan buku dapat dilihat di : http: / / www.sumundomineral.com
  • E-Book Pengolahan Emas Menggunakan Thiourea
    Ekstraksi logam emas dari batuan yang menggunakan sianida sebagai agent ekstraktor memiliki berbagai kelemahan ditinjau dari beberapa segi, antara lain ; resiko penyebaran racun, lamanya waktu leaching, dan harga yang cukup mahal.

    Thiourea ( thiocarbamide) adalah suatu bahan kimia pelarut emas yang memiliki sifat ramah lingkungan dan tak memiliki sifat racun sama sekali. Ekstraksi mineral emas menggunakan thiourea memiliki beberapa keunggulan dibanding sianida, antara lain ; waktu leaching yang lebih singkat ( 5 kali lebih cepat dibanding menggunakan sianida) , tingkat perolehan logam yang lebih tinggi hingga mencapai 95% dalam skala produksi ( pada skala produksi , tingkat perolehan logam dalam pengolahan yang menggunakan sianida hanya mampu mencapai 80% - 85% ) , daya serap karbon yang jauh lebih cepat serta kuantitas serapan yang lebih besar, dan sebagainya.

    Sianida memiliki harga yang sangat mahal di Indonesia, dimana thiourea dapat diperoleh dengan sangat murah ( 25% dari harga sianida dalam kuantitas yang sama) . Oleh karena itu thiourea sangat unggul jika digunakan untuk memproses batuan-batuan yang memiliki kandungan logam emas rendah ( di bawah 10 gram/ ton) ; pada batuan yang memiliki kandungan emas di bawah 10 gram/ ton, menggunakan sianida sebagai pelarut memiliki tingkat resiko kerugian yang cukup tinggi.
    Cuplikan buku dapat dilihat di : http: / / www.sumundomineral.com
  • E-Book Pemurnian Emas, Golongan Platina, Perak dan Logam Lainnya
    E-Book Pemurnian Emas, Platina, Palladium, Perak, dan Logam Lainnya dibuat berdasarkan seringnya logam-logam tersebut menyatu dalam bentuk paduan logam, baik yang berasal dari alam maupun hasil dari pencampuran dan pelapisan.

    Ada 2 cara sistem pemisahan dan pemurnian yang dipaparkan dalam buku ini, yaitu ; 1. Cara-cara yang biasa disebut sebagai metoda analisa kuantitatif, dan 2. Cara yang menggunakan prinsip-prinsip elektrokimia yang sering disebut sebagai peristiwa elektrolisis. Pemisahan secara kuantitatif biasanya dilakukan terhadap paduan lebih dari 2 jenis logam, suatu hal yang sulit dilakukan jika menggunakan proses elektrolisa.

    Pemisahan dan pemurnian logam-logam yang bercampur dengan unsur besi dan logam dari golongan platina ( Platinum Group Metal) memerlukan penanganan yang khusus dan kompleks, disebabkan sangat bertolakbelakangnya sifat-sifat dari masing-masing logam tersebut.

    E-Book disusun dalam 5 Bab, yaitu :

    Bab I tentang Pendaluhuan. Pada bagian ini diulas berbagai jenis paduan logam yang ada, dan berbagai produk industri logam yang merupakan paduan logam mulia.

    Bab II berjudul " Dasar-Dasar Kimia Kualitatif, Kuantitatif, dan Elektrokimia " . Pada bagian ini dijelaskan secara lengkap dasar-dasar kimia dengan penyajian yang relatif sederhana agar bisa dicerna dengan baik oleh berbagai kalangan. Bagian ini juga mulai membahas berbagai reaksi kimia umum, pengidentifikasian menggunakan analisa kualitatif masing-masing unsur logam dan senyawanya, pengukuran kandungan masing-masing logam menggunakan analisa kimia kuantitatif, serta prinsip-prinsip dasar elektrokimia yang merupakan dasar dari ilmu elektrolisis ( electrowinning) .

    Bab III berjudul Sifat-sifat Logam dan Berbagai Reaksi Spesifiknya, Di bagian ini pembahasan lebih spesifik dan lebih menjurus ke ilmu kimia metallurgy.

    Bab IV berjudul Pemisahan dan Pemurnian Paduan Logam Mulia. Pada Bab ini berbagai metoda pemisahan logam dibahas, lengkap dengan prakteknya. Juga dibahas proses electrowinning untuk berbagai jenis logam dalam rangka pemurnian masing-masing logam tersebut.

    Bab V berjudul Teknik Peleburan Masing-Masing Logam. Di bagian ini diulas cara-cara peleburan berbagai jenis logam, temperatur leleh dan cairnya, jenis-jenis fluks untuk masing-masingnya, dan beberapa pembahasan lainnya.
    Cuplikan buku dapat dilihat di : http: / / www.sumundomineral.com



  • Saya kenal dengan perusahaan ini dan ingin memberikan tinjauan.


Membuat situs langsung jadi?
Silahkan Klik disini!